Cerpen Bukan Teologi Rindu - karya Ibnu Wicaksono

18 Januari 2022 Ibnu Dibaca 1601 kali Karya Sastra
Cerpen Bukan Teologi Rindu - karya Ibnu Wicaksono

Selepas sembahyang ashar, seorang penyair lelaki berjalan sempoyongan pada serebah jalan yang basah di antara bebaris pepohonan, hanya menyisakan reranting. Gugur daun. Hujan turun. "Rembulan menangis," katanya.

Seharusnya langit menebarkan jingga, tapi sepasang matanya tak bisa berbohong. Seharusnya hujan semakin deras saja, tetapi di mata penyair itu ada sebuah perayaan kesedihan yang musti dituntaskan. Selepas menyusuri jalan begitu jauh, ia tiba pada sebuah halte. Halte tua. Bergesa ia duduk,  dan menulis tiga bait puisi sederhana.

di kursi itu,
aku lihat luka
pernah duduk berdua
dengan kekasihnya
yang kini pergi meninggalkannya
menuju senja

di kursi itu,
aku lihat air mata
pernah duduk berdua
dengan kekasihnya
yang kini pergi meninggalkannya
moksa ke dinding goa

di kursi itu,
aku temani mereka berdua
aku peluk duka dan air mata
dan kubisikkan kata, "kita bernasib sama."

Hujan masih turun. Satu-satu. Ada bus datang. Penyair tersebut memutuskan untuk menaiki bus, tanpa mengetahui arah tujuan. Kaki kanannya menginjak lantai bus. Satu, dua tiga langkah ia berada di dalam, tepat berdiri di tengah, dan menatap kursi-kursi kosong. Tak ada penumpang. Ia kaget, bus telah berjalan, ia masih menatap kursi-kursi kosong, sampai tatapannya menjadi kosong. Imajinasinya semakin kabur, selepas bus malam itu memutar lagu berjudul Kereta Senja milik Gardika Gigih.

 

Pernahkah kau sedekat ini? Kuberlari, kuberlari.

Pernahkah kau sedekat ini? Kuberlari, kuberlari.

 

“Bukankah itu Kereta Senja?” tanyanya kepada sopir.

“Iya, Tuan.”

 “Siapa namamu?”

 “Sukab, Tuan.”

Penyair tersebut semakin kaget, sepertinya ia telah masuk dalam narasi sastra Seno Gumira Ajidarma, pengarang dengan imaji senja dalam segala karangannya, senja yang tidak hanya indah, tetapi menyimpan kecemasan. Pemilik cerita Sepotong Senja untuk Pacarku, Negeri Senja, Senja dan Cinta yang Berdarah. Cerita absurd. Penyair tersebut semakin kaget, ketika sopir menyebutkan namanya. Ia bergesa ingat dengan cerita pendek berjudul “Tujuan : Negeri Senja”. Sebuah kereta yang mengantarkan penumpang menuju negeri senja, sebuah negeri kecemasan, sebuah negeri kematian. Apakah ia akan menuju kematian?

 “Sebentar, kamu kenal Seno Gumira Ajidarma?”

 “Dia Bos kami, Tuan.”

 “Lalu, ini bus apa?”

 “Bus Senja.”

 “Ha?”

Sopir bus tersebut tersenyum.

 “Mau kau bawa kemana aku?”

 “Bukannya Tuan yang memutuskan untuk menaiki bus ini?”

 “Tapi, ini bukan kereta senja. Aku belum ingin mati.”

 “Betul, Tuan. Ini bus senja, bukan kereta senja.”

 “Kemanakah tujuan akhir dari bus senja ini?”

 “Tujuan akhir dari bus kami adalah muara kesedihan penumpangnya.”

 “Maksudnya?”

 “Bus ini hanya mengantarkan seseorang yang sedang dilanda kesedihan, yang sedang dilanda kecemasan, yang sedang dilanda kesepian. Betulkah Tuan sedang mengalami kesedihan?”

Penyair tersebut tak menjawab, tetapi melayangkan pertanyaan.

 “Lalu, bagaimana aku harus sembahyang magrib? Bisakah bus ini berhenti terlebih dahulu untuk mencari musholla?”

 “Tidak bisa Tuan, Bus ini akan berhenti dengan sendirinya, dan tidak boleh dipaksa untuk berhenti, itu akan menyakitkan penumpangnya.”

 “Lalu, kemana arah kiblat?”

“Bukannya Tuan sudah mengerti bagaimana harus sembahyang di perjalanan? Bukankah Tuan sangat mempercayai bahwa Tuhan ada di mana-mana?”

“Lalu, bagaimana aku harus berwudlu?”

“Ah, mengapa pertanyaan remeh temeh itu ditanyakan, Tuan?”

Penyair itu semakin gelisah, cemas semakin melanda. Ia putuskan untuk bertayamum dan sembahyang magrib. Bus masih berjalan, menyusuri kelok jalanan yang tiada habisnya.

Selepas sembahyang, penyair tersebut bertanya, sampai di mana sekarang.

“Doa Malam, Tuan” jawab sopir.

“Doa Malam, milik Joko Pinurbo?”

“Iya, Tuan.”

Bergesa penyair itu berdoa.

“Tuhanku yang merdu,

Terimalah kicau burung

Dalam kepalaku.”

         

“Terimalah amin

yang kutanam dengan iman

agar aku aman.”

Bus menyusuri malam, penyair tersebut memutuskan untuk duduk di belakang. Malam semakin kelam. Langit semakin hitam. Hujan masih turun, air mata perlahan jatuh.

Di segigil pagi, lelaki itu menulis puisi.

barangkali, lelaki yang gagah pada selembar pagi,

adalah ia yang tenggelam sepanjang malam

dalam banjir, dari gerimis matanya

Perlahan ia menuju sopir. Sembari melihat keluar, hujan masih jatuh. Satu-satu.

 “Sampai mana?”

 “Telaga Kesepian, Tuan”

 “Adakah yang lebih sepi selain menjadi manusia yang tak terpahami? Kamu kenal Halim Bahriz?”

 “Sepertinya jawabannya sudah Tuan ketahui.”

 “Adakah hujan yang lebih tabah dari hujan bulan juni? Kamu Kenal Sapardi?”

 “Ah, lagi-lagi Tuan bertanya dengan jawaban yang Tuan lebih tahu”

 “Aku tidak sedang bertanya padamu, Sukab.

Aku hanya sedang rindu.”

 “Tentu, Tuan”

 “Kenapa kamu begitu tahu?”

 “Sebentar lagi kita akan menuju daerah Eka Kurniawan.”

 “Seperi dendam, Rindu harus dibayar tuntas?”

 “Betul, Tuan.”

 “Apakah tempat-tempat yang kita lalui berdasarkan dengan perasaanku?”

 “Betul, Tuan.”

 “Apakah aku sedang dendam? Atau aku sedang rindu?”

 “Bisa saja keduanya, Tuan.”

Penyair itu kaget ketika melihat keluar. Manusia-manusia aneh. Manusia-manusia yang berada di luar begitu aneh. Tidak memiliki kepala, tidak memiliki mata, tidak memiliki bibir, telinga, dan hidung. Manusia tanpa kepala. Tetapi dari leher, tumbuh tanaman, tumbuh rumput yang menjalar, tumbuh kaktus, tumbuh dedaunan.

 “Siapa mereka, Sukab?”

“Manusia, Tuan.”

 “Mengapa manusia begitu aneh seperti itu? Apakah mereka sedang dikutuk?”

 “Tidak Tuan, itulah manusia dengan penuh perasaan. Yang lebih dari sekadar topeng.”

 “Maksudnya dari sekadar topeng? Apakah karena sudah memiliki bermacam-macam topeng, sampai kehilangan kepalanya. Apakah mereka sedang dilanda kecemasan?”

 “Ya, Tuan. Mereka sedang merayakan kesedihan, merayakan kecemasan, tentu dengan kadar kebahagiaan masing-masing.”

 “Lalu?”

“Kadang mereka juga berpura-pura, Tuan. Cerdik sekali. Penuh kepalsuan. Penuh keabsurdan.”

 “Lalu?”

 “Seringkali mereka juga memiliki intrik-intrik aneh. Senyuman-senyuman palsu.”

 “Apakah mereka iblis?”

 “Anda adalah penumpang ke-99 yang menyampaikan demikian, ketika sampai di sini.”

 “Lalu?”

“Dan, biasanya kita akan segera sampai.”

“Apakah muara perasaanku di sini? Apakah aku akan menjadi seperti mereka, Sukab?”

“Itu sebuah pilihan, Tuan.”

“Aku masih belajar menjadi manusia, Sukab. Lalu, jika aku ditakdirkan harus hidup di antara iblis-iblis. Apakah aku harus menjadi iblis juga?”

“Tidak, Tuan. Jadilah malaikat.”

“Maksudnya?”

“Ya, kadang Malaikat Mikail, kadang juga malaikat Izroil.” Jawab Sukab dengan sedikit tertawa.

Penyair itu bingung. Ia baru saja belajar menjadi manusia, belajar cara berdoa yang tulus, belajar senyum yang teduh, seperti puisinya: senyuman adalah obat paling ampuh untuk menahan air mata agar tidak runtuh. Tetapi harus bertemu dengan iblis-iblis.

“Kita sudah berjalan berapa jauh?”

“Sangat jauh, Tuan. Di bus senja seperti ini, semalam bisa setahun dalam dunia luar.”

“Berarti kita sedang berjalan berbulan-bulan? Bahkan bertahun-tahun?”

“Betul, Tuan.”

“Lalu, kenapa Aku selalu menyaksikan manusia-manusia tanpa kepala, yang dari lehernya tumbuh tanaman seperti itu?”

“Berarti sudah banyak iblis, Tuan.”

“Kapan aku akan sampai?”

“Sebentar lagi, Tuan. Tidurlah sejenak, istirahatlah. Istirahatlah, kata-kata, istirahatlah air mata.”

Penyair itu semakin gelisah, tubuhnya harus terpaksa diistirahatkan, tetapi matanya perlahan terpejam. Air matanya harus segera diberhentikan, tetapi hujan tidak lekas reda. Begitu juga dengan rindunya. Sebuah rindu yang cukup dalam. Ya, penyair itu sedang dilanda kerinduan yang brutal, rindu yang paling rindu dalam sejarah rindu yang paling rindu.

Akhirnya, penyair yang masih belajar menjadi manusia tersebut harus sampai pada takdir yang mencemaskan. Apakah rindunya akan bergesa reda? Apakah ia akan menjadi iblis? apakah kepalanya akan hilang? Apakah dari lehernya akan ditumbuhi tanaman? Berpuluh-puluh pertanyaan telah bermunculan di kepalanya.

“Tuan, kita telah sampai.”

“Di mana ini?”

“Sebuah tempat tanpa nama, tanpa judul. Judulnya Nanti Setelah Rindu Reda, Tuan”

Penyair melihat ke luar. Sebuah pantai, dengan ombak yang kecil. Tapi, sepi. Tak ada manusia. Tak ada perahu, tak ada apa-apa. Hanya satu benda tersisa, gamelan.

“Mengapa hanya tersisa gamelan, Sukab.”

“Turunlah, Tuan akan bergesa mendapatkan jawabannya. Dan saya pamit untuk segera pergi, Tuan”

“Baik, terima kasih, Sukab”

Penyair turun, ia menapakkan kaki pada pasir. Ia berjalan perlahan menuju gamelan, ia memutuskan untuk duduk. Ia pegang alat pemukul gamelan, dan bergesa secara amat perlahan matanya hilang, hidungnya hilang, bibirnya hilang, kepalanya hilang. Kepala penyair itu hilang. Iya, penyair itu kini tanpa kepala seperti manusia-manusia yang ia lihat sebelumnya.

Bergesa tumbuh tanaman menjalar. Menjalari tubuhnya. Tanaman itu bergesa meliliti alat pemukul gamelan. Tetapi dalam hati, penyair itu masih bisa berpuisi.

 “Gamelan ini masih menjadi pertanda, aku harus tetap mencari ilmu sampai tuntas, karena GAMELAN adalah Gusti Allah Maringi Emut Lakonono Ajaran Nabi” ujarnya dalam hati, tanpa bibir lagi.

Bergesa ia berpuisi tanpa bibir, ia berpuisi dalam hatinya.

Bukan karena sepi aku merindukanmu,

Tetapi karena merindukanmu, aku jadi sepi

Seperti halnya dendam, rindu harus dibayar tuntas

Seperti halnya Islam, ilmu harus dipelajari tuntas

Dan, aku sedang rindu, rindu serindu-rindunya

Bukan kepada kekasih, bukan kepada semua orang

Bukan kepada apapun, bukan kepada apa-apa

Aku sedang rindu dengan diriku sendiri

Aku sedang rindu dengan diriku sendiri

 

          ***

Di sebuah kamar tidur, seorang ibu mengantar segelas kopi untuk lelaki, anak pertama kesayangannya. Ibu lihat anak pertamanya itu duduk menghadap laptop, tetapi kepala anak itu hilang, tumbuh tanaman dari leher. Ibu tidak kaget. Ibu malah tersenyum.

“Kamu telah sampai, Nak. Kamu telah sampai pada apa yang kamu inginkan. Silakan rayakan kesedihan. Seperti puisimu. Kamu meminum air sungai yang mengalir dari mata ibumu, sampai kapanpun, kamu akan hidup dengan air mata ibumu. Tenanglah, sebentar lagi kamu akan bahagia. Sebentar lagi.”

Ibu letakkan segelas kopi. Ibu keluar, menutup pintu kamar. Hujan turun sangat deras di luar. Lelaki itu tidak akan pernah tahu bahwa ibunya akan menangis jika ia masih bersedih. Beruntungnya, ibu sangat cerdas menyuguhkan senyuman yang paling meneduhkan dan menenangkan di hadapan anaknya. Ya, menyuguhkan kebahagiaan kepada anak lelakinya, Penyair kesayangannya.

 

          Jember, 18 Januari 2022

 

Ibnu Wicaksono adalah Penulis Buku. Bukunya yang telah terbit : Buku Kumpulan Cerpen "Bapak Puisi, Ibu Novel, dan Kami Pembatas Buku" dan Buku Kumpulan Puisi "Judulnya Nanti setelah Rindu Reda". Ilustrasi Cerpen dalam karya ini dibuat oleh Cak Nur Sumpah Serapah.

Ibnu Wicaksono, lahir di Balung-Jember, 6 Maret 1994. Penulis Terbaik (bersama 4 penulis lainnya) dalam Menulis Cerita Rakyat, Watu Ulo Pegon (2019). Naskahnya “Bang Kulon Sigra Amuksa” difilmkan dan sebagai Finalis International Moving Film Festival, Iran (2019). Editor Buku Antologi Cerpen Gandrung Melarung Mendung karya Ayu Nosa (2018-2019). Puisinya “Anak Senja” dialih-wahana menjadi Film “SANDYAKALA” karya Ghuiral H. Safaragus (2018-2019). 10 Besar Finalis Manuskrip Buku Puisi se-Jawa Timur, Dewan Kesenian Jawa Timur (2017). Penulis Terpilih dalam Workshop Cerpen Kompas Nasional di Bali (2015 dan 2016). Juara 2 Sayembara Cerpen se-Eks Karesidenan Besuki (2016). Juara 1 Menulis Cerpen tentang Hari Ibu, KSEI Fakultas Ekonomi Unej (2016). Juara VIII dalam Lomba Penulisan Puisi Tingkat Nasional (2016). Duta Universitas Jember dan Juara 2 Lomba Pekan Seni Mahasiswa Nasional tingkat Jawa Timur (2014 dan 2016). Inisiator Acara Nang Ning Nung Puisi Parade Kecil Musik Puisi (2016). Penulis dalam Buku Antologi Puisi Penyair Indonesia, Kumpulan Cerpen Nahima Press, Kumpulan Puisi Nahima Press, Kumpulan Cerpen Imasind, Kumpulan Puisi Imasind, Kumpulan Puisi Belantara Cemas DKK, Kumpulan Puisi Sastra Timur Jawa, dan lain-lain. Penulis dalam Buku Antologi Dongeng UKM Kesenian Unej (Judul: Bul-bul dan Belalang Hijau bersama Nur Majdina, Alle AF dan Ibnu). Penulis Naskah dan Aktor “Kursi Roda” dan menjadi 10 Besar Lomba Seni Indonesia Berkabung dan dipentaskan di ISI Yogyakarta (2015), Finalis dan Kontributor Buku Kumpulan Cerpen Penerbit Deepublish (2015), Juara 3 Lomba Puisi 7 Kota (2015). Penulis Naskah dan Aktor “GANDRUNG JAWI” dipentaskan di Gedung PKM Unej (2014). Finalis dan Kontributor Buku Kumpulan Cerpen PNE Award Psikologi Unmuh Jember (2014). Penyair Undangan dalam Ngaji Sastra Komunitas Tikungan Indonesia (2014). Sutradara dan Penulis Naskah dalam Temu Teater Mahasiswa Nusantara (TTMN) di Jakarta (2014) dan dipentaskan di Tulung Agung dan Sumatera Barat. Juara 1 Lomba Menulis Naskah Drama Unej melalui naskah Kardus di Ruang Tunggu Stasiun (2014). Sutradara dan Penulis Naskah Film “DUA SURAT” (2014). 10 Besar Lomba Tulis Nusantara Nasional, Kategori Puisi (2013). Juara 1 Cipta Baca Puisi se-Eks Karesidenan Besuki (2013). Cerpen termuat di Republika, Radar Jember dan beberapa Media Online (2013-2019). Sutradara dan Penulis Naskah “PERTEMUAN” dipentaskan di Gedung Soetardjo Unej. Penulis Naskah, Sutradara dan Aktor “BANGSAT” dipentaskan di Gedung PKM Unej (2013). Juara 1 Lomba Menulis Puisi tentang Hari Ibu (2012).

Share :

Komentar

Refresh halaman ini jika komentar tidak tampil