[Kolom Assalam] Matahari Tidak Akan Pernah Mengejar Bulan

24 September 2021 Ibnu Dibaca 245 kali Informasi
[Kolom Assalam] Matahari Tidak Akan Pernah Mengejar Bulan

Kolom ASSALAM (Astronomi dan Sains dalam Islam)

MATAHARI TIDAK AKAN PERNAH MENGEJAR BULAN

Oleh : Muhammad Wildanun Amien*

 

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS:yasin[36]:40)

            Seperti yang dijelaskan pada ayat di atas harusnya bumi berotasi, jika tidak maka kandungan ayat ini akan bertentangan dengan fenomena bulan sabit yang semakin tinggi di ufuk barat setelah bulan baru. Ayat ini menjelaskan bahwa matahari tidak akan pernah mengejar bulan, artinya bulan lebih cepat matahari.

            Selain dibuktikan dengan ayat Al-Qur`an, peristiwa ini juga dibuktikan dengan perhitungan sains dengan astrofisika sebagai dasarnya. Bulan dan matahari tampak mengelilingi bumi dengan matahari sebagai pusatnya. Bulan mengelilingi bumi satu lingkaran penuh selama 27,34 hari. Hal ini identik dengan 0o32`55,61” per jam. Matahari mengelilingi bumi atau lebih tepatnya bumi yang mengelilingi matahari dalam 365,25 hari yang identik dengan 0o2`27,84” per jam. Kecepatan sudut bulan 13 kali lebih besar daripada kecepatan sudut matahari. Meskipun demikian, karena jarak bumi-matahari kurang lebih 400 kali jarak bumi-bulan, laju tangensial matahari 30 kali laju tangensial bulan, Vm ~ 30 Vb. Artinya, meskipun sudut yang ditempuh matahari 13 kali lebih kecil daripada sudut tempuh bulan, panjang lintasan yang ditempuh matahari dalam 1 jam, 30 kali lebih panjang daripada lintasan bulan dalam rentang waktu yang sama. Laju tangensial sendiri merupakan laju yang dimiliki benda ketika bergerak melingkar dengan arah yang menyinggung lintasan putarannya.

            Pola gerak telah dirumuskan menjadi konsep Geosentris dan Heliosentris. Geosentris merupakan istilah astronomi yang menggambarkan alam semesta dengan bumi sebagai pusatnya dan pusat pergerakan semua benda-benda langit.sedangkan heliosentris adalah model astronomi yang mana bumi mengelilingi matahari yang berada pada pusat jagat raya. Menurut pengertian tersebut, artinya konsep alam semesta geosentris dan heliosentris saling bertolak belakang.kita yang percaya pada gagasan geosentris maupun yang menerima heliosentris harus menengok ke luar, ke arah bintang-bintang seperti halnya yang dijelaskan dalam Al-Qur`an yaitu:

وَعَلٰمٰتٍۗ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُوْنَ

Dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bntang-bintang itu mereka mendapat petunjuk. (QS:An-Nahl[16]:40)

Astronom Friedrich Wilhelm Bessel dari jerman adalah orang yang akhirnya menerima gagasan Heliosentris. keputusan tersebut didasarkan pada hasil pengamatannya atas bintang Cygnus 61 pada 1838 dengan metode paralaks, yaitu perbedaan latar belakang yang tampak ketika sebuah benda yang diam dilihat oleh dua pengamat yang berbeda, Seperti kita yang mengacungkan jari telunjuk kita di depan mata kita kemudian tutup mata kanan amatilah jari kita kemudian bergantian dengan menutup mata kiri maka akan terlihat sebuah perbedaan.nah, perbedaan tersebut yang disebut paralaks.

*Muhammad Wildanun Amien adalah siswa SMA Nuris Jember yang duduk di bangku Kelas XI MIPA 1 dan mengikuti Ekstrakurikuler M-Sains Olimpiade Astronomi. 

Sumber gambar : https://www.bola.net/lain_lain/kata-kata-mutiara-tentang-bulan-indah-dan-menerangi-saat-gelap-3a421d.html

 

Share :

Komentar

Refresh halaman ini jika komentar tidak tampil